( By Must Be’, 26 Maret 2008)
Pagi itu , dimana manusia masih terlena dengan mimpinya
kau kepakkan sayapmu menyambut datangnya fajar
kau lafalkan tasbih dan tahmid dengan caramu
memuji keagungan Tuhan yang memberi segalanya
matahati terbit tersenyum bak artis menyapa para penggemarnya
tak terkecuali ikan teri di dasaran laut
Kok blekok, sangkarmu adalah pribadimu
kumpulan ranting rapuh, akar dan rerumputan
kau anyam kau sulap menjadi singgasana kebanggaan
dan kau jadikannya maktab merencanakan segala sesuatu
dan kau bangga- sebangga Balqis dengan kerajaannya
Kok blekok, pagi itu kau mulai kepakkan sayap
menyusuri setiap tempat tuk mencari
ma’isyah yang telah dihamparkan oleh Pangeranmu
tanpa kompas, gaed, peta, dan lainnya.
Blak blak blak….suara kepakan sayapmu
jauh jauh kau terbang tinggalkan maqommu
dalam hitungan menit, kau tak tertangkap oleh mataku
Senja tiba, kok blekok telah sampai manzilnya
dengan muka sumringah dihampirinya darah dagingnya
dengan anggukan kepala seakan mengatakan hadza halal ya ibnii !.
Halal karena bukan hasil korupsi dan ngapusi
tapi hasil cucuran keringat dan penjelajahan ribuan mil bumi,
teriring Do’a dan tawakkal kepada ilahi Robbi.
Kok blekok malammu telah tiba
kau sisir semua bulu-bulumu dengan lembut dan syukur
terlupakan kepenatan saat terbang cepat menghindari pelor pemburu.
Mind mapingmu kamu buka lagi dengan sedikit revisi
sekarang matamu kelihatan sayu, dan kepalamu terasa berat karena kantuk,
toh walau begitu aura kecantikanmu tetap menyemburat
selalu kelihatan cantik dengan bulu mutalauwanmu:
putih, hitam dengan kombinasi coklat yang tertata rapi,
bagai bidadari yang baru keluar dari salon cleopatra
Kok blekok kau membuatku iri.
Kok blekok ajari aku terbang menyusuri mustaqbalku
dengan muka berseri penuh percaya diri karena ridho ilahi
PMS 26 Maret 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar